Kab. Klaten – Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dan penopang pembangunan. Salah satu komoditas andalan pertanian Indonesia adalah padi. produksi beras Nasional pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 32,07 juta ton, yang mana lebih besar dari kebutuhan konsumsi beras tahunan yaitu 30,03 juta ton. Meskipun terjadi surplus produksi namun kondisi pertanian di Indonesia masih rentan menghadapi ancaman krisis pangan. Kondisi lahan pertanian dewasa ini semakin menyempit akibat adanya alih fungsi lahan menjadi hunian. Selain itu ketersediaan SDM Petani juga mengalami penurunan, banyak petani berumur 50 tahun ke atas yang masih aktif bekerja. Sedangkan regenerasi petani mengalami kondisi yang stagnan akibat kurangnya minat generasi milenial untuk bekerja pada sektor pertaian. Berbagai kondisi tersebut mengakibatkan produksi pertanian mengalami penurunan di beberapa daerah.

Sebagai daerah penunjang ketahanan pangan nasional, Kabupaten Klaten menjadikan pertanian, khususnya beras sebagai sektor unggulan. Dalam rangka mewujudkan Klaten sebagai daerah penunjang ketahanan pangan nasional diperlukan berbagai langkah strategis baik oleh pemerintah pusat, provinsi maupun Kab/Kota untuk bersinergi mempertahankan dan  memajukan pertanian di  Indonesia. BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah melalui Bidang Inovasi Teknologi menginisiasi pengembangan teknologi Drone Pertanian tipe penebar untuk pupuk granula dan benih, sehingga proses penebarannya menjadi semakin efektif dan efisien. Kegiatan kajiterap dilaksanakan di Balai Desa Karangasem, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten pada Senin, 12 Desember 2022.  Kegiatan ini dihadiri oleh Perangkat Daerah terkait Kabupaten Klaten, Camat Cawas, Kades Karangasem, kelompok tani, petani milenial dan BUMDes Desa Karangasem.

Pada kesempatan tersebut Kepala BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kepala Bidang Inovasi dan Teknologi, Bapak Agung Koenmarjono, S.H, menyampaikan bahwa salah satu faktor penting dalam mewujudkan ketahanan pangan adalah tersedianya tenaga pertanian yang memadai. Oleh sebab itulah inovasi teknologi seperti ini sangat diperlukan sebagai faktor pengungkit minat generasi muda pada dunia pertanian. Berdasarkan data LIPI (2017) dari 71 % penduduk Indonesia yang bergantung pada sektor pertanian, hanya 3% saja anak petani yang mau meneruskan pekerjaan di sektor pertanian. Minimnya regenerasi petani ini menyebabkan 61% petani yang tersedia di Indonesia berumur 50 tahun ke atas. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk memicu minat generasi muda pada dunia pertanian melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi yang lebih modern dan menguntungkan. Di Kabupaten Klaten juga terdapat beberapa inventor yang memiliki inovasi unggulan, seperti teknologi pengolah jerami dan sampah hijauan menjadi pupuk kompos, pakan ternak hingga briket yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Camat Cawas Kabupaten Klaten Drs Muh Prihadi,M.Si menyampaikan bahwa sudah saatnya petani memanfaatkan teknologi modern seperti ini di bidang pertanian. Dengan memanfaatkan teknologi, pekerjaan pertanian menjadi semakin mudah dan murah. Lebih lanjut berharap teknologi ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok tani di Desa Karangasem dan apabila memungkinkan bisa ditularkan ke Kelompok Tani di desa-desa lain di Kecamatan Cawas, bahkan Kabupaten Klaten secara umum.

Kabid Litbang Bappedalitbang Kabupaten Klaten M. Umar Said, S.Hut., M.P.P., M.Eng. menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini stakeholder pengampu kepentingan di Provinsi maupun Daerah dapat bekerjasama untuk dapat turut serta mengembangkan teknologi dalam mengoptimalkan potensi lokal sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Desa Karangasem Kecamatan cawas Kabupaten Klaten Surono menyambut baik kehadiran teknologi ini, di desa Karangasem sendiri beberapa petani sudah pernah menggunakan jasa penyemprotan pestisida dengan drone sehingga teknologi ini tidak asing lagi bagi kelompok tani. Namun, beliau juga menyampaikan bahwa selama ini hanya menggunakan jasa dari perusahaan penyewa saja belum ada yang bisa mengoperasikan sendiri. Melalui kegiatan ini diharapkan petani dapat belajar untuk menggunakan drone secara mandiri, dan apabila diperlukan dapat membeli perangkat tersebut secara swadaya ataupun kolektif. 

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ganit Lingga Rantika, Inventor drone pertanin Rindan V2 dari Kabupaten Temanggung. Drone penebar pupuk granula adalah modifikasi dari drone penyemprot pestisida. Modifikasi dilakukan dengan cara mengganti penampung benih padi atau pupuk granuler dan memasang pengatur pengeluaran pupuk granuler. Drone ini mempunyai kapasitas muat sekitar 3 – 5 kg, kecepatan 2-3 km/jam dengan ketinggian 1,5-2 m dari permukaan tanah, lebar kerja 3 meter.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan uji coba praktek penggunaan drone pertanian tipe penebar ini. Cara penggunaan drone penebar benih dan pupuk sangat sederhana, operator tinggal memasukan data saja ke remote control yang telah tersedia, sebelumnya tangki pupuk harus diisi terlebih dahulu, pengecekan diperlukan dengan tujuan mencegah keluarnya granula terhambat akibat tersumbat. Kecepatan granule yang ditebar dari drone dapat dikalibrasi dan disesuaikan dengan kebutuhan. Diharapkan praktek dan uji coba drone pertanian ini tidak hanya dilakukan sekali saja karena diperlukan pelatihan yang lebih intensif untuk benar-benar memahami seluk-beluk drone pertanian termasuk bagaimana cara menyelesaikan masalah yang sering dihadapi ketika menerbangkan drone di lapangan.  

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content