Pemanfaatan gas rawa diharapkan mampu dikembangkan sebagai sumber energi alternatif baru oleh masyarakat sekaligus mewujudkan kemandirian energi desa di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Gas rawa atau biogenic shallow gas sendiri merupakan gas yang terbentuk dari bakteri metagonik pada lingkungan rawa yang merupakan lingkungan anaerobik. Gas ini terdapat pada lapisan batuan yang dangkal.

Gas rawa saat ini telah dikembangkan di Jawa Tengah sebagai salah satu sumber energi alternatif. Gas rawa ini juga tergolong ramah lingkungan dan dapat digunakan untuk menggantikan LPG. Aplikasi gas rawa di sejumlah titik di Provinsi Jawa Tengahdiharapkan mendorong pembangunan ekonomi masyarakat setempat. Pengembangan gas rawa ini juga menjadi bagian dari diversifikasi energi, mendorong ketahanan energy.

Pada tahun 2020, Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah membangun instalasi gas rawa di Desa Bantar untuk 25 kepala keluarga. Kemudian pada tahun berikutnya instalasi diperluas menjadi 100 kepala keluarga dengan instalasi terjauh sepanjang 600 meter. Penggunaan gas rawa ini bisa menghemat sekitar 72% biaya LPG. Biasanya, masyarakat menggunakan 3 tabung LPG seharga Rp 23 ribu rupiah per bulan namun, sekarang tidak perlu membayar untuk LPG.

 

Provinsi Jawa Tengah, yang memanfaatkan gas rawa untuk mendukung kemandirian energi desa. Kegiatan ini mendukung program transisi energi Indonesia sekaligus memetakan potensi dan inovasi berbasis komunitas yang muncul. Dimana warga di Desa Rajek, Jawa Tengah memanfaatkan gas alam metana (CH4) yang dijuluki “gas rawa” yang berasal dari sumur bor yang mengeluarkan gas di salah satu pekarangan warga setempat.

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2013 merespons dengan mengirim tim ahli geologi untuk melakukan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan gas alam yang terpendam di bawah Desa Rajek melimpah dan secara ilmiah ahli geologi yang diterjunkan menyebutkan gas rawa tersebut adalah gas alam yang berada di kedalaman yang dangkal yang terbentuk dari fosil hewan dan tumbuhan di kedalaman sekitar 30-40 meter.

Gas alam tersebut kemudian dialirkan ke seluruh rumah warga karena potensi gas alamnya sangat mencukupi dan tidak berbahaya karena tekanannya yang relatif rendah sehingga bisa digunakan hingga puluhan tahun ke depan.

Proses pemanfaatan gas rawa di Desa Rajek juga cukup sederhana pertama gas diambil dari sumur bor yang mengandung gas kemudian gas yang masih bercampur air dipisahkan menggunakan separator atau mesin pemisah yang terdapat dua tabung yang berbeda yaitu tabung untuk menampung air dan tabung untuk menampung gas. Dari tabung berisi gas itulah kemudian baru disalurkan ke rumah-rumah warga yang hanya perlu membayar biaya Rp15.000 untuk biaya perawatan alat dan kas desa.

Warga berharap kepada pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pihak terkait agar terus menyempurnakan pemanfaatan gas rawa di Desa Rajek agar bisa dimanfaatkan secara optimal, adil dan merata sehingga tercipta kesejahteraan di masyarakat.

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content