Jawa Tengah pada tahun 2008 telah mendeklarasikan diri sebagai provinsi Vokasi yang diharapkan menjadi rujukan pengembangan dan penyelanggaraan pendidikan kejuruan atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri maupun swasta. Salah satu ukuran penting keberhasilan penyelenggaraan SMK adalah seberapa banyak keterserapan lulusannya di dunia usaha dan industri.

Keterserapan ini berkaitan dengan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Tengah pada Tahun 2016 masih didominasi dengan tingginya angka lulusan SMK sebesar 13,69%. Namun pada Tahun 2017 angka tersebut menurun menjadi 8,07% dan menggeser lulusan Diploma yang menyebabkan angka TPT sebesar 9%.

Lulusan SMK yang diharapkan langsung dapat bekerja di dunia usaha dan industri, tetapi sebagian besar malah nganggur. Hal ini secara umum disebabkan karena miss match antara demand side dan supply, ketidaksesuaian antara permintaan akan tenaga kerja yang relatif banyak, tetapi tenaga kerja yang tersedia tidak tersedia memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia usaha dan industri. Dari data Kadin Indonesia secara nasional pada tahun 2020 permintaan tenaga kerja managemen menengah diperkirakan akan mencapai 17 juta orang. Sementara perkiraan ketersedian untuk mengisi kebutuhan tersebut hanya sekitar 8 juta orang. Hal ini menjadi permasalahan dan tatangan dalam penyelenggaraan SMK di Jawa Tengah.

Dalam upaya mengembangan sistim pendikan dan pelatihan di Jawa Tengah, khususnya terkait dengan pendidikan vokasi seperti yang dilakukan dalam TVET, kami sajikan beberapa informasi hasil kelitbangan. Seperti di SMK Negeri Jawa Tengah yang berlokasi di Kota Semarang, Kabupaten Pati dan Banjarnegara pada tahun 2018. Serta kajian strategis melalui FGD yang diselenggarakan Bappeda  Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan DRD (Dewan Riset Daerah) Jawa Tengah pada bulan Mei 2019 yang lalu.

TVET (Technical and Vocational Education and Training) telah diterapkan di beberapa negara. TVET diartikan secara penuh kedalam bahasa Bahasa Indonesia akan menjadi menjadi pendidikan dan pelatihan teknik dan kejuruan (PPTK). TVET, merupakan bentuk pendidikan unik karena memiliki berbagai ciri khusus yang menunjukan perbedaan dengan pendidikan umum. Salah satu kehasan TVET tergambar dalam  kerangka kerja konseptual (K3)nya. Apabila ingin menerapkan sistim pendidikan TVET untuk suatu bidang tertentu, maka harus di dahului dengan penyusunan kerangka kerja konseptualnya.

Persoalan pokok yang harus dijawab dalam menerapkan TVET dalam sistim pendidikan sekolah kejuruan yang dapat menghasilkan lulusan yang memenuhi tuntutan pasar tenaga kerja di masa yang akan datang.

Dalam K3 TVET menggambarkan arah pemikiran dan implementasi dari TVET yang fleksibel. Kerangka kerja konseptual merupakan gambaran umum yang bersifat kaku, tetapi secara khusus mudah beradaptasi apabila dihadapkan pada kondisi yang berbeda. 

Kerangka Kerja Konseptual  TVET berisi beberapa aspek, antara lain:

  • Kurikulum secara garis besar memuat apa yang dianggap penting, apa yang diajarkan, dan bagaimana hal itu diajarkan. Termasuk hubungan antara sekolah dan dunia kerja.
  • Sasaran utama TVET adalah individu-individu yang masih belum memiliki keterampilan dan minimal telah memiliki pengetahuan dasar keterampilan untuk menghadapi transisi dari kehidupan sekolah ke kehidupan nyata.
  • Teknik pengajaran dalam TVET harus bisa mengakomodasi pembelajaran dan mampu untuk membuat iklim sekolah mencerminkan lingkungan tempat kerja nyata.
  • Teknik penilaian yang memperhatikan aspek pengetahuan (kognitif), pemaknaan (afektif), dan moral (psikomotorik) siswa.
  • Teknik Evaluasi TVET meliputi internal dan eksternal yang menitik beratkan pada keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja.

Kerja sama antara lembaga diklat kejuruan dan industri karus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas program. Manfaat kerjasama yang efektif bagi lembaga pendidikan yaitu kualitas lulusan lebih sesuai dengan kebutuhan industri sehingga meningkatkan serapan lulusan. Meningkatkan kualitas pengajar, meningkatkan reputasi sekolah, animo pendaftar meningkat, komunikasi dan hubungan dengan industri meningkat. Kesempatan mempelajari kebutuhan industri lebih mendalam sehingga dapat menyelaraskan kurikulum agar lebih sesuai, serta meningkatkan kesempatan dan kemudahan untuk melakukan penelusuran alumni di dunia usaha dan industry guna pengembangan sistim KBM di sekolah.

Bagi dunia usaha dan industri, kerjasama yang efektif akan dampat  memudahkan memperoleh calon tenaga kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri, memperoleh tenaga kerja untuk jangka waktu pendek, serta kesempatan untuk mengelola  sumber daya manusia lebih awal.

Maka syarat keharusan yang harus disiapkan dalam penyelengaraan KMB di SMK khusnya di Jawa Tengah, agar mampu menghasilkan lulusan yang terserap di dunia usaha dan industri regional/nasional/luar negri. Termasuk mengembangkan usaha mandiri, dan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Universitas. Pemerintah Provinsi Jawa telah berhasil menerapkan TVET dalam pendidikan SMK seperti yang telah dilakukan di SMK Negri Jawa Tengah di Kota Semarang, Kabupaten Pati dan Purbalingga.

Rachman Djamal, Peneliti Utama,  Bappeda Provinsi Jawa Tengah
Suara Merdeka 20 Juni 2019

Sumber :
http://epaper.suaramerdeka.com/epaper/detail/2019/6/20/17

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *