RADARSEMARANG.ID, Semarang – RSUD dr. Moewardi Solo mulai memproduksi Baju Hazardous Material (Hazmat) untuk penanganan pasien Covid-19. Dalam sehari ada 200-250 potong baju yang dihasilkan.

Bambang SW, Kepala Bidang Pelayanan Penunjang RSUD Dr. Moewardi mengatakan, produksi ini akan digunakan untuk keperluan internal dan kebutuhan rumah sakit lainnya di Jawa Tengah melalui Dinas Kesehatan Provinsi.

“Kalau di RSUD dr. Moewardi kebutuhannya untuk satu pasien 15 APD setiap harinya. Sehari untuk perawat ada 3 shift dan dokter,” ujarnya saat menunjukkan hasil produksi baju Hazmat di kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

Baju hazmat ini diproduksi menggunakan bahan Polypropylene Spunbound yang dijahit oleh penjahit lokal. Untuk produksi baju hazmat, sudah diberlakukan sistem lembur. “Tapi tetap kami lakukan dengan memperhatikan protokol agar tetap steril. Penjahit harus cuci tangan dan sebagainya,” ujarnya.

Bambang mengatakan, baju ini hanya untuk sekali pakai dan harus dimusnahkan setelah digunakan. Tidak boleh dibuang. “Biaya produksi hingga jadi satu baju itu Rp 35-40 ribu. Sekarang Rp150 ribu kalau di pabrikan,” jelasnya.

Bambang mengakui, untuk produksi baju hazmat ini masih menghadapi kendala bahan baku. Di Solo, sudah mulai jarang ditemui. “Tapi kalau di Semarang sepertinya masih cukup banyak tersedia,” katanya.

Gubernur Jawa Tengah mengatakan, rumah sakit yang memerlukan baju hazmat ini bisa segera mendata dan menghubungi dinas kesehatan Jawa Tengah. “Kemarin ada yang pakai mantel (jas hujan, red). Ini kemudian menjadi ramai dibicarakan. Ini produksi RS Moewardi harganya jauh lebih murah dengan kualitas sama. Silahkan menghubungi Dinas Kesehatan Provinsi,” ujarnya saat menerima bantuan hand sanitizer, baju hazmat, dan vitamin dari PT Phapros di kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Senin (23/3/2020).

Gubernur mengatakan, sudah saatnya daerah membantu pusat melalui inovasi. Jangan membebani pemerintah pusat. “Kalau rumah sakit lain mau meniru, bisa kursus ke rumah sakit Moewardi untuk membuat ini. Jangan repotkan pusat, mari daerah berusaha membantu,” tandasnya. (sga/bas)

Oleh Sigit Andrianto dan Baskoro Septiadi 23 Maret 2020

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *