Mewujudkan kedaulatan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani masuk dalam Nawa Cita Presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Perubahan Jawa Tengah tahun 2013-2018. Yakni dengan peningkatan ketersediaan kebutuhan pokok pada tingkat aman, swasembada pangan dan disertai dengan tersedianya instrumen jaminan pangan pada tingkat masyarakat.

Untuk merealisasikannya, pemerintah menerapkan program upaya khusus pajale Salah satunya dengan memberi fasilitas alat mesin pertanian (alsintan) sejak tahun 2017 melalui brigade. Seperti traktor roda dua, traktor roda empat, transplanter, ponpa air, handsprayer, eskavator mini, combine harvester besar, combine harvester sedang, combine harvester kecil, power thresher multiguna, power thresher dorong, power threser mobile. Fasilitas alsintan pra panen, panen dan pengolahan hasil tersebut diharapkan mampu memangkas ongkos produksi pertanian. Mulai dari masa tanam hingga panen.

Penelitian dilakukan di Kabupaten Grobogan dan Magelang pada bulan Mei sampai dengan Oktober tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alsintan prapanen untuk budidaya padi yang sering dimanfaatkan adalah traktor roda dua dan traktor roda empat. Traktor roda dua selalu digunakan oleh seluruh petani di Kabupaten Grobogan dan Magelang yang akan menanam padi. Alasannya karena petani lebih suka menggunakan traktor daripada tenaga manusia atau ternak. Penggarapannya lebih cepat.

Alat tanam padi pemanfaatanya masih belum optimal karena kemampuan SDM untuk mengoperasionalkan alat masih belum maksimal. Hal ini dikarenakan pelatihan teknis untuk operator alsintan transplater masih kurang. Pada daerah tertentu masih terdapat tenaga kerja khususnya regu tanam sehingga penggunaan alsin ini akan menimbulkan konflik,. Kondisi wilayah tidak memungkinkan menggunakan alat.

Untuk alsintan pasca panen yang sering digunakan adalah Combine Havester Besar dan Power Threser. Combine Havester sedang dan kecil pemanfaatanya masih belum maksimal dikarenakan hanya bisa digunakan pada MT II. Sedangkan kalau pada MT I maka ban akan masuk ketanah.

Penggunaan combine havester menurut petani lebih praktis Rendemen yang dihasilkan lebih tinggi karena tingkat kehilangan lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan power threser. Power threser mobile sering digunakan karena lebih efisien. Untuk power threser multiguna pemanfaatan belum optimal karena kemampuan alat yang tidak maksimal. Yaitu belum mampu memisahkan antara gabah gabug dan bernas. Sedangkan alsintan power threser kecil roda dua bekerjanya juga tidak bisa maksimal karena hasilnya tidak bisa bersih sekaligus dan harus diulang sehingga memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak.

Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA) merupakan unit yang potensi untuk mengelola alsintan dengan professional. Tapi fasilitasi alsintan dari kementerian pertanian yang distribusinya sampai pada UPJA belum realistis sesuai dengan kebutuhan petani pengguna, selain iu tingkat penggunaan jenis Alsintan pun juga berbeda-beda.

Kesimpulannya ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektifitas bantuan alsintan. Soal iklim dan waktu, Jangka waktu pengolahan tanah untuk padi dibatasi oleh pola tanam. Karena itu, diperlukan jadwal yang pasti dengan kapasitas dan jumlah alsintan pengolahan tanah. Selain itu, waktu tanam atau panen sering tidak bersamaan, sehingga jalan Alsintan ke lokasi terkendala. Perlu pola pengelolaan luasan lahan sesuai dengan kapasitas dan jumlah alsintan.

Jenis dan Kondisi Tanah juga mempengaruhi. Alsintan pada MT 1, musim hujan, pada jenis tanah liat yang gembur Alsinan yang relatif berat. Roda yang kecil akan ambles dan tidak dapat beroperasi. Petakan lahan (sawah atau tegal) yang sempit dan dengan kontur yang relatif tinggi, berpengaruh terhadap operasional pemindahan ke petak lain.

Terkait kelembagaan dan SDM Pengelola, lembaga seperti Poktan, UPJA, Brigade Dinas dan Brigade Kodim mengelola jumlah Alsintan yang berbeda. Brigade Kodim, mempunyai SDM pengelola dan pengalaman dalam mengelola Alat Berat Kemiliteran, tapi tidak langsung berkomunikasi dengan petani pengguna Alsintan. Poktan dan UPJA, berkomunikasi langsung dengan petani pengguna, namun jumlah dan jenis alsintan yang dikelola terbatas dan SDM nya, sering belum pengalaman mengelola dan mengoperasionlakan Alsintan. SDM, terutama tenaga Montir yang sekaligus sebagai operator Alsintan di beberapa lokasi kesulitan ketersediaannya.

Oleh: Eny Hari Widowati, Peneliti Bappeda Jateng
Radar Semarang Jawa Pos 25 Februari 2019

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *