“Bertambahnya jumlah lansia pada tahun mendatang tentu saja akan mendatangkan problematika sosial baru apabila mereka benar-benar menjadi tanggungan generasi mudanya.”

PROYEKSI penduduk Indonesia tahun 2015-2045 menunjukkan terjadinya fenomena penuaan. Karena itu, Indonesia dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan dalam menghadapi fenomena tersebut. Salah satunya adalah bagaimana menjaga kualitas hidup kelompok lanjut usia (lansia), khususnya terkait dengan kesejahteraan mereka. Hidup lebih lama belum tentu berarti dalam kondisi sehat.

Prevalensi penyakit pada lansia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi karena kerentanan terhadap penyakit dan disabilitas meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Angka kesakitan pada lansia pada tahun 2014 sebesar 25.05% yang berarti pada setiap 100 lansia terdapat 25 orang yang sakit. Berdasarkan hasil Susenas 2016, jumlah lansia di Indonesia mencapai 22,4 juta jiwa atau 8.69% dari jumlah penduduk. Pada 2020 diprediksi jumlah lansia mencapai 28.822.879 jiwa (11,34%). Sementara itu, hasil proyeksi yang menunjukkan bahwa pada tahun 2045 jumlah penduduk lansia akan mengalami peningkatan menjadi sekitar 19,8%, menjadi tantangan bagi kita semua.

Dengan kata lain, sekitar seperlima penduduk Indonesia pada tahun tersebut merupakan lansia. Jumlah lansia yang semakin besar ini menjadi tantangan bagi kita semua agar dapat mempersiapkan lansia yang sehat dan mandiri sehingga kelak tidak menjadi beban bagi masyarakat ataupun negara dan justru akan menjadi aset sumber daya manusia yang potensial. Jumlah dan persentase penduduk lansia (penduduk usia 60 tahun ke atas) di Provinsi Jawa Tengah akan terus bertambah sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup.

Bertambahnya jumlah lansia pada tahun mendatang tentu saja akan mendatangkan problematika sosial baru apabila mereka benarbenar menjadi tanggungan generasi mudanya. Dari data nasional dilaporkan, pada 2017 sudah ada 14 rumah sakit rujukan pemerintah di 12 provinsi yang telah memiliki pelayanan geriatrik dengan tim terpadu. Sebanyak 3.645 puskesmas (37%) telah menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang santun lansia dan terdapat 80.353 posyandu lansia/ posbindu.
Memperhatikan kondisi tersebut, cita-cita Jateng menuju Provinsi Ramah Lansia memerlukan upaya yang sungguhsungguh, kolaborasi, dan kemitraan degan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi profesi, organisasi masyarakat sesuai dengan amanat Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia yang menitikberatkan pada pemenuhan hak dasar lansia.

Berdasarkan Undang- Undang RI Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia bertujuan memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktif, terwujudnya kemandirian dan kesejahteraannya, terpeliharanya sistem nilai budaya dan kekerabatan bangsa Indonesia, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Ramah Lanjut Usia, Pengembangan Kawasan Ramah Lanjut Usia bertujuan untuk: (1) tersedianya wilayah dan masyarakat dengan fasilitas yang mendukung kebutuhan serta pemenuhan hak Lanjut Usia; (2) terwujudnya peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia; (3) terwujudnya lansia yang mandiri, sehat, aktif, dan produktif; dan (4) terwujudnya perlindungan dan pendampingan bagi lansia yang mengalami keterbatasan fisik, mental, sosial, dan ekonomi.

Peningkatan Tertinggi
Pada 2015 WHO memprediksi Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah lansia 41,4% yang merupakan peningkatan tertinggi di dunia. Terdapat empat syarat WHO untuk menjadi kota/kabupaten ramah lansia. Keempat syarat itu adalah memiliki seperangkat peraturan yang mengatur tentang lansia, mempunyai pemimpin daerah yang berkomitmen berkepedulian terhadap lansia, memiliki metode dokumentasi yang ramah lansia sebagai ketentuan WHO, dan fasilitas yang ramah terhadap lansia. Jawa Tengah termasuk lima provinsi yang memiliki umur median lebih dari 30 tahun atau sudah memasuki populasi usia menua, sehingga perlu menyikapi kondisi tersebut dengan menyiapkan kelompok lansia yang sehat, sejahtera, tangguh, mandiri, produktif, dan berkualitas.

Jawa Tengah telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2014 tentang Kesejahteraan Lansia, Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kesejahteraan Lansia, dan memiliki Komda Lansia.

Dalam implementasinya, perlu ditingkatkan pemfasilitasan dan layanan terhadap kesejahteraan lansia. Di antaranya fasilitas ramah lansia di area publik dan peningkatan pemahaman serta sikap dalam melayani lansia. Diperlukan pula kerja sama antara pemerintah, legislatif, dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga profesi, DRD, dan Komda Lansia untuk merumuskan mekanisme peningkatan kesejahteraan lansia dalam rangka mewujudkan kawasan ramah lansia di Provinsi Jawa Tengah.

Kawasan ramah lansia bisa dibangun dari desa, kecamatan, kabupaten/kota hingga provinsi dengan mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada disertai komitmen tinggi dari pengambil kebijakan.

Oleh: Wiwin Widiastuti, Peneliti Bappeda Jateng
Suara Merdeka 28 Maret 2019

Sumber :
https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/177850/menuju-provinsi-ramah-lansia

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *