RADARSEMARANG.ID,- Revolusi industri 4.0 akan membawa banyak perubahan dengan segala konsekuensinya. Industri akan semakin kompak dan efisien. Namun ada pula risiko yang mungkin muncul. Misalnya berkurangnya sumber daya manusia yang akan digantikan oleh mesin atau robot.

Dunia saat ini tengah mencermati revolusi industri 4.0 ini secara saksama. Berjuta peluang ada di situ, tapi di sisi lain terdapat berjuta tantangan yang harus dihadapi.

Diperkirakan hampir sepertiga populasi masyarakat akan kehilangan pekerjaannya. Diprediksi industri 4.0 dampaknya akan lebih besar dari sebelumnya. Tercatat sekarang sudah lebih dari ratusan situs dan apps yang membuat kita lebih cepat dan murah untuk memesan tiket online atau hotel.

Di sisi lain banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba muncul dan menjadi inovasi baru, serta membuka lahan bisnis yang sangat besar. Munculnya transportasi dengan sistem ride-sharing seperti Go-jek, Uber, dan Grab. Kehadiran revolusi industri 4.0 memang menghadirkan usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya.

Menurut data dari BPS hasil pendataan survei angkatan kerja nasional 2018 total penduduk Jawa Tengah berusia 15 tahun ke atas berjumlah 26.341.544 orang. Merupakan angkatan kerja sebesar 18.059.895 orang, proporsi yang bekerja 95,49 persen atau dengan kata lain angkatan kerja yang bekerja 17.245.548 orang.

Dari para pekerja tertinggi bekerja di sektor pertanian yaitu 24,38 persen atau 4.204.249 orang, peringkat kedua bekerja di sektor industri yaitu 21,78 persen atau 3.756.317 orang dan peringkat ketiga 18,69 persen bekerja di sektor perdagangan. Meskipun sektor pertanian menyerap tenaga kerja lebih besar namun kontribusi terhadap PDRB masih di bawah kategori industri yakni 14,04 persen. Sedangkan untuk industri sebanyak 34,50 persen. Untuk sektor perdagangan dengan tenaga kerja yang besar cukup besar memberi kontribusi urutan ke tiga terhadap PDRB yaitu sebesar 13,51 persen.

Akankah sektor pertanian, industri dan perdagangan serta sektor-sektor lain tetap bertahan menyerap tenaga kerja yang cukup besar di era industri 4.0 ini? Sementara tingkat partisipasi angkatan kerja Jawa Tengah (TPAK) dari tahun 2017 ke 2018 naik dari 67,86 persen menjadi 69,11 persen dan TPT (tingkat pengangguran terbuka ) yang merupakan persentase angkatan kerja yang termasuk dalam pengangguran di Jawa Tengah dari tahun 2017 ke tahun 2018 menurun dari 4,57 menjadi 4,51.

Yang terpenting di dalam menghadapi era industri 4.0 adalah meningkatkan kualitas pembangunan manusia. Menjadikan seseorang menjadi pekerja yang dibutuhkan , bagian dalam pembangunan saat ini. Untuk mampu bersaing dengan mesin-mesin, pekerja harus memiliki keterampilan yang mampu melihat hubungan antar-industri, mencari suatu pemecahan masalah yang cerdas dan kreatif.

Disamping itu memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu melakukan interpretasi terhadap data yang tersedia, menjadi orang yang kreatif, memiliki kemampuan solusi tidak biasa akan memiliki masa depan yang baik pada masa nanti di era industri 4.0.

Kita harus berusaha untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan belajar, keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan era industri 4.0. Tantangan ke depan adalah meningkatkan skill tenaga kerja, walaupun mengingat 66 persen atau sekitar 11.978.783 angkatan kerja di Jawa Tengah adalah lulusan di bawah SLTA. Pendidikan sekolah vokasi menjadi suatu keharusan agar tenaga kerja bisa langsung terserap ke industri. Harapannya inovasi terus meningkat sehingga lebih kompetitif di era transisi teknologi saat ini, sehingga revolusi industri 4.0 ini nantinya bukanlah suatu kejadian yang menakutkan. Justru peluang makin luas terbuka bagi anak bangsa untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional. (mtl1/lis)

Tulisan : Yuyun Wiendyawati, SE, M.Si

Oleh: Tasropi

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *