PEMBAHASAN DRAFT KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TENGAH tentang TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY) PROVINSI JAWA TENGAH

PEMBAHASAN DRAFT KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TENGAH

tentang

TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY) PROVINSI JAWA TENGAH

 

  1. Sumber daya manusia memegang peranan yang sangat penting. Keberadaannya akan memberikan kepastian proses pencapaian tujuan. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) adalah modal utama untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan pembangunan suatu daerah. Oleh karena itulah keberadaan dan peran sumber daya manusia dalam suatu daerah memiliki arti sama pentingnya dengan daerah itu sendiri.
  2. Untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan sumber daya manusia diperlukan komitmen untuk melaksanakan proses yang berkualitas dan berkelanjutan sebagai salah satu prioritas yang dimulai sejak dini. Pembangunan SDM berkualitas sejak dini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya berkaitan dengan pembangunan kesehatan. 
  3. Kecukupan gizi yang dibutuhkan sejak dini merupakan salah satu indikator dalam pembangunan kesehatan dan dapat menjadi penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan, menurunnya produktivitas dan daya tahan serta meningkatkan angka mortalitas. Kekurangan zat gizi tertentu akan berakibat spesifik sesuai dengan fungsi zat gizi tersebut di dalam tubuh manusia. Salah satu unsur zat gizi yang sangat diperlukan dalam proses penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas adalah yodium.
  4. Memperhatikan bahwa seluruh nusantara telah merupakan daerah defisit yodium karena yodium dalam tanah dan sumber air telah “terbasuh” hujan tropis dan letusan gunung berapi (DR Sunawang, 2011), maka diperlukan upaya yang dapat membantu masyarakat mendapatkan asupan yodium cukup. Upaya tersebut adalah dengan melakukan fortifikasi yodium dalam garam, atau yang dikenal dengan yodisasi garam.
  5. Sesuai dengan ketentuan Standard Nasional Indonesia (SNI 3556-2010 tentang Syarat Mutu Garam Konsumsi), garam konsumsi wajib mengandung yodium 30 part per million (ppm) sebagai upaya untuk membantu dan memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan gizi mikro (yodium) bagi pertumbuhan otak dan susunan syaraf pada janin, ibu hamil dan pertumbuhan balita.
  6. Sehubungan dengan hal itu, Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium telah menegaskan, bahwa garam yang dapat diperdagangkan untuk keperluan konsumsi manusia atau ternak, pengasinan ikan, atau bahan penolong industri pangan adalah garam beryodium yang telah memenuhi Standar Indonesia (SNI)/Standar Nasional Indonesia (SNI) (Pasal 1). Kemudian dinyatakan pula pada Pasal 2 : Garam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1; sebelum diperdagangkan wajib terlebih dahulu diolah melalui proses pencucian dan iodisasi. Ketentuan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia tersebut jelas dinyatakan bahwa garam yang diproses produksi dan diperdagangkan untuk konsumsi baik manusia atau ternak, pengasinan ikan, serta bahan penolong industri pangan wajib melalui proses yodisasi. Dengan demikian, setiap produsen garam konsumsi di Indonesai wajib melakukan yodisasi sebagai satu bagian utuh dalam memproses produksi garam konsumsinya, termasuk produsen skala kecil.
  7. Sebagaimana ketentuan Pasal 6 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 63 Tahun 2010 tentang Pedoman Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium di Daerah, dengan tegas disampaikan bahwa Gubernur melakukan penanggulangan GAKY di provinsi antara lain melalui upaya menyiapkan kebijakan tentang penangulanan GAKY mulai dari aspek produksi, distribusi dan konsumsi garam beryodium;
  8. Untuk memberikan perlindungan terhadap penduduk dari risiko Gangguang Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), diperlukan peran Pemerintah Daerah melakukan penanganan terhadap produksi dan peredaran garam konsumsi tidak beryodium. Di Jawa Tengah upaya tersebut ditempuh melalui penanganan yang dikoordinasi oleh suatu tim, yaitu Tim Koordinasi Penanggulangan GAKY Provinsi Jawa Tengah, dengan tugas utama mengembangkan rencana kerja secara terpadu dan sinergis berkelanjutan dalam upaya mencapai target 90% Konsumsi Garam Beryodium Untuk Semua (KGBS).
  9. Dalam rangka sinergitas perencanaan dan untuk mendukung implementasi konkrit serta memperhatikan perkembangaan yang ada, perlu kiranya dilakukan pembahasan terhadap Tim Koordinasi Penanggulangan GAKY Provinsi Jawa Tengah.
  10. Pembahasan dimaksud dilakukan melalui rapat koordinasi yang akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 5 Februari 2018 di ruang siding lantai V Bappeda Prov Jateng, jalan Pemuda 127 – 133 Semarang, dengan materi yang dapat diunduh melalui laman berikut : DOWNLOAD

 

 

Bappeda Provinsi Jawa tengah

Bidang Pemsosbud

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *